STUDY LAPANGAN
STUDY
LAPANGAN
SAPI
PERAH DAN MUSEUM
STUDY LAPANGAN: Sapi perah “Ijen Makmur” Dusun Ampel Gading Desa Tamansari Kecamatan Licin Banyuwangi, kali ini menjadi objek studi lapangan santri PPM Al Kautsar Sumbersari Srono Banyuwangi.
Study lapangan kali ini dibagi menjadi tiga tahapan, tahap pertama santri putra kelas 7 dan 9 SMP, 10 dan 12 SMA hari Senin 10 Oktober 2022. Tahap kedua santri putri kelas 7 MTs dan 10 SMA di hari selasa 11 Oktober 2022. Sedang tahap tiga santri putri kelas 9 MTs dan 12 SMA hari Rabu 12 Oktober 2022.
Jarak yang cukup jauh serta persiapan perjalanan dari Sumbersari ke Licin menjadi kendala santri praktek memeras sapi secara langsung. Menurut bapak Ahmad Sulamto, pemerahan sapi dimulai jam 6 sampai jam 8, Lebih dari itu maka sapi akan mengamuk.
Sapi perah “Ijen Makmur” didirikan sejak 2012.
“Didirikan usaha sapi perah ini sebagai penghasilan harian dan sebagai lapangan
pekerjaan bagi orang sekitar” kata pak Sulam.
Salah satu santri yang bernana Ana Dusturi bertanya “Mengapa sapinya kok tidak gemuk.” Jawaban pak Sulam “ Sapi perah tidak gemuk, karena jika gemuk makanan yang dikunsumsi menjadi dagigng bukan susu.”
(sumber:
Dokumentasi Penulis)
“Sapi yang bisa menghasilkan susu syaratnya harus sudah bunting 9 bulan 10 hari atau sudah melahirkan” kata pak Sulam, “dan harga sapi kecil 7-8 juta, sedangkan sapi yang sudah bunting bisa mencapai 35-40 juta”
Banyak sekali
yang ditanyakan santri seputar perawatan, pengolahan sampai modal usaha serta
penghasilan yang diperoleh. Anak-anak sangat antusias sekali ketika mereka
belajar memasak susu yang bisa diminum dalam keadaan hangat.
(sumber:
Dokumentasi Penulis)
MUSEUM
BELAMBANGAN: Perjalanan dilanjutkan menuju museum
Belambangan yang berada di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata jalan Jendral
Ahmad Yani No. 78 Banyuwangi.
Museum Blambangan memiliki koleksi mulai era pra sejarah, seperti era megalitikum, masa klasik, Hindu-Budha, masa Islam, kolonial, era kemerdekaan dan paska kemerdekaan.
Musium ini diberi nama Belambangan karena konon
dahulu bekas kerajaan Belambangan yang cukup dikelan pada masa kerajaan
Majapahit.
(sumber:
Dokumentasi Penulis)
Beberapa koleksi yang terdapat dicatatan anak-anak:
1. 1. Batu
dakon, yang terdapat 36 lubang dan difungsikan untuk permainan, menghitung
tanggal panen. Dan benda ini ditemukan dialiran sungai.
2. 2. Candik pipisan
digunakan untuk menghaluskan rempah-rempah.
3. 3. Manik-manik
4. 4. Lontar Yusuf dalam
aksara dan bahasa jawa yang terbuat dari daun aren yang dikeringkan
5. 5. Cermin milik noni
belanda yang terbuat dari bahan marmer.
6. 6. Piring dari Eropa, yang
motifnya rose dan pecah seribu.
7. 7. Piring
cina, cap kaisar/kerajaan, cap naga, dan koi. Dan lain sebagainya.
Dari museum ini anak-anak dapat mengetahui
perkembangan Banyuwangi dari masa ke masa. Mulai dari kerajaan Belambangan sampai
berbentuk pemerintahan NKRI. Dan disitu juga terpajang foto bupati Banyuwangi
dari masa kemasa.
Perjalanan santri diahiri tempat wisata Pantai
Bangsring (rumah apung) untuk santri putra dan Pantai Cacalan untuk santri
putri. (Team Jurnalis Al Kautsar)
(sumber:
Dokumentasi Penulis)
Komentar
Posting Komentar